sikap variasi kebudayaa prospektif dalam perilaku konsumen

SIKAP VARIASI KEBUDAYAAN PROSPEKTIF    DALAM PERILAKU KONSUMEN

ABSTRAK

Pada dasarnya ilmu budaya dalam konteks pemasaran menenkankan pada serangkaian pola pikir, tindak dan perilaku suatu masyarakat pada komunitas tertentu yang memiliki reaksi ketika dihadapkan pada sebuah aspresiasi interprestasi produk yang edukasikan pada wilayah pasar dimana masyarakat tersebut berada, suatu reaksi mencerminkan hasil umpan balik perilaku konsumen yang terhemogensasikan pada suatu keputusan pembeli yang mengaktualisasikan segala kebutuhan dan keinginan masyarakat terseburt. Berikut ini akan menjelaskan sebuah panduan pemikiran yang mendeskripsikan suatu pasr produktertentu agar tidak bisa begitu saja eksistensinya dipisahkan dari kemampuan pemasar mengekplorasikan unsur-unsur budaya yang membentuk karakter budaya perilaku konsumen, kata kunci : Antropologi budaya perilaku konsumen dimensi eksternal, dimensi internal.

 

BAB 1

Pendahuluan  .

Dalam  panggung dunia berubah secara revolusioner karena perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi yang begitu deras mengalir. Begitu deras mengalir sehingga hubungan antar kawasan bisa berjalan dalam hitungan sepersekian detik tanpa segala hambatan peraturan batas-batas konvensional Negara , hubungan antar manusia dan masyarakat yang berbeda kawasan bahkan dalam satu kawasan pun bisa menerima komunitas bersama yang berkumpul dalam satu stereotype generasi kebudayaan sama yang dimoblisir oleh kesamaan hasrat ekspetasi kebutuhan dan keinginan. Dalam perkembangan masyarakat dewasa ini dimana kapitalisme telah menjadi kekuatan besar dalam transformasi masyarakat secara mencolok dalam bidang komunikasi dan transportasi, berbagai fasilitas transportasi yang memungkinkan terjadinya moblitas sedemikian insentif. Dimana setiap orang seakan-akan bergerak terus-menerus meninggalkan batas-batas wilayah kebudayaan demikianlah arjun appadurai telah menyatakan bahwa mobilitas merupakan fenomena, social, ekonomi dan politik , kecenderungan ini memperlihatkan bahwa batas-batas kebudayaan mulai meng-abur karena orang atau sekelompok orang memiliki kemampuan bergerak begitu cepat ke tempat berbeda dan  kemudian menjadi bagian dari suatu tempat tertentu dengan string cultural yang berbeda.

Latar Belakang Kebudayaan

Dalam menerjemahkan apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan konsumen sebagai hasil dari entitas budaya komunitas berada kebudayaan selalu meneprenstansikan totalitas hasil nilai yang membentuk karakter masyarakat dalam homogenitas pola pikir , pola tindak, dan perilaku ketika masyarakat tersebut bereaksi pada fenomena pemasaran. Fenomena pemasaran ini dapat dikategorikan perilaku konsumen dengan masing-masing segmentasi dan target pasar sekalipun  beberapa konsumen memilki perilaku sama ketika di bombardier oleh beragam produk dengan masing-masing tawaran keunggulannya” namun pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana cara suatu produk bisa merespon kebutuhan dan keinginan masyarakat pada suatu pasar tertentu yang tidak bisa diterjemahkan begitu saja lewat riset pasar kuantitatif dan situasional,

kemudian apakah dengan menyimpulkan pada suatu segmen penikmat produk berupa barang atau jasa tertentu tersebut berarti bisa memberi satu kesimpulan komprehensif tentang kebudayaan konsumen dalam komunitas tersebut? Jawaban kedua pertanyaan ini terlalu determinatifjika ditelah melalui jalur otomatis perilaku konsumen saja pada factor perilaku, motivasi , keputusan pembelian dan segala macam aspek penting yang menjadi pedoman petunjuk karateristik konsumen tanpa memasukkan unsur antropologi terutama antropologi budaya dalam hal ini . pemasaran dalam konteks akselerasi positioning merk selalu melihaqt manusia dalam ruang lingkup mahluk social yang menghasilkan satu sintesa karakter dan perilaku baru yaitu kebudayaan yang berakses salah satunya pada ekpresi dan gaya hidup konsumen ketika memasukin ranah pemasaran tangible maupun intangible.

Inilah komunitas spesifikasi tulisan ini menjatahwedahkan pendekatan antropologi budaya untuk dapat memastikan bahwa analisa penetapan segmentasi pasar dan target pasar tidak dapat dipisahkan begitu saja dari komunitas budaya dari mana mereka berhabitat.

 

BAB 2

PEMBAHASAN

Kebudayaan mempengaruhi nilai-nilai yang dimiliki manusia, bahkan mempengaruhi sikap dan perilaku manusia yang merupakan factor kebudayaan karena manusia bertindak dalam lingkup kebudayaan, dibawah ini terdapat lima definisi kebudayaan yang masing-masing karakter yaitu :

1.     Iris varner dan linda bearner dalam intercultural communication in the global workplace, yang mengartikan kebudayaan sebagai pandangan yang koheren tentang sesuatu yang dipelajari yang dibagi, atau yang dipertukaran oleh sekelompok orang. Pandangan itu berisi apa yang mendasari kehidupan apa yang menjadi derajat kepentingan, tentang sikap mereka yang tepat terhadap sesuatu.

2.    Dalam arti luas kebudayaan adalah perilaku yang telah tertanam ia merupakan totalitas dari sesuatu yang dipelajari manusia, akumulasi dari pengalaman yang dialihkan secara social, tidak sekedar sebuah catatan ringkas, tapi dalam bentuk perilaku melalui pembelajaran social.

3.    Kebudayaan merupakan pandangan hidup dari sekelompok orang dalam bentuk perilaku, kepercayaan, nilai-nilai dan symbol yang mereka terima dalam proses komunikasi dan peniruan dari satu generasi kepada generasi berikut.

4.    Kebudayaan adalah komunikasi symbol, simbolisme itu adalah keterampilan, kelompok, pengetahuan , sikap, nilai dan motif.

5.    Kebudayaan dapat diartikan sebagai Pertama ,cultivation (pengolahan,penanaman) atau tillage (pengusahaan tanah ), dua istilah ini merupakan konsep pertanian. Kedua, kegiatan untuk mengembangkan pilihan peningkatan pendidikan, moral (misalnya melalui pendidikan). Ketiga ,pendampingan alih dan pelatihan. Keempat :a( pencerahan dan peningkatan mutu rasa melalui pencarian dan pelatihan intelektual dan estetika), b( berkenan dengan perasaan seni melalui seni, aspek-aspek kemanusiaan keilmuan yang diperoleh dari pelatihan dan ketrampilan atau pekerjaan). Kelima :a( integrasi pola-pola pengetahuan manusia kepercayaan dan perilaku yang tergantung pada kapasitas manusia untuk mempelajari dan mengalihkan pengetahuan bagi generasi lainnya, b( memperkuat kepercayaan, bentuk social dan unsur-unsur materian dari sebuah ras, agama atau sekelompok social). Keenam, melestarikan kehidupan materian melalui media.

Dari lima pengertian tentang kebudayaan dapat ditarik suatu nbenang merah holistic bahwa kebudayaan merupakan realisasi kesamaan pandangan hidup manusia ketika membentuk komunitasnya yang disebut masyarakat. Dan hal tersebut merupakan hasil aktualisasi mereka kepada persembahan jagad makrokosmo dan mikrokosmos yang mengitari hidup mereka, kesamaan pandangan hidup mereka tampilan berpola budaya yang selalu berulang terus secara kontinyu dalam ruang lingkup ini kebudayaan menunjuk kepada aspek kehidupan.

Konsep kebudayaan

Kebudayaan merupakan suatu kompleks keseluruhan dimana dimasukkannya pengetahuan, keyakinan , seni , moral , hokum , adat istiadat , dan kemampuan lain apapun serta kebiasaan yang diperoleh oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Ada beberapa aspek dari perlunya perluasan budaya yaitu :

a.    Pertama , Budaya merupakan konsep yang meliputi banyak hal (luas), hal tersebut termasuk segala sesuatu dari pengaruh proses pemikran individu dan perilakunya dan ketika budaya tidak menentukan sifat dasar dari frekuensi pada dorongan biologis seperti ; lapar atau seks hal tersebut berpengaruh jika , kapan dan bagaimana dorongan ini akan memberikan kepuasan

b.    Kedua , Budaya adalah hal yang diperoleh, ia nya dimasukkan mewarisin respond dan kecendurangan.

c.    Ketiga , Kerumitan dari masyarakat modern merupakan kesungguhan dimana budaya jarang memberikan ketentuan terperinci atas perilaku yang tepat.

Kebudayaan ini dijalankan oleh keadaan yang batasnya cukup bebas pada perilaku individu dan berpengaruh fungsinya dari institusi seperti keluarga dan media massa. Batasan dimana perangkat budaya dalam perilaku disebut Norma yang merupakan aturan sederhana dimana menentukan beberapa perilaku dalam situasi yang spesifik, norma yang dijalankan dari nilai budaya dimana nilai budaya adalah kepercayaan yang dipertahankan dimana menguatkan apa yang diinginkan.

Adapun beberapa variasi dalam nilai budaya merupakan nilai yang dampak yang lebih perilaku konsumen dimana dalam hal ini dimasukkan ke dalam 3 kategori umum :

1.     Orientasi nilai-nilai budaya

a.    Individual/kolektif

b.    Kaum muda/tua

c.    Meluas/ batas keluarga

d.    Maskulin/feminism

e.    Persaingan/kerjasama

f.    Perbedaan/keseragaman

2.    Orientasi nilai lingkungan

a.    Kebersihan

b.    Dayaguna/keadaan

c.    Tradisi/perubahan

d.    Pengambilan resiko/ pengaman

e.    Pemecahan masalah/ fatalistis

f.    Sifat dasar

3.    Nilai orientasi diri

a.    Aktif/pasif

b.    Kepuasan sensual/ pantangan

c.    Material/non material

d.    Kerja keras/santai

e.    Penundaan kepuasan/kesegaran kepuasan

f.    Kekeragaman/keduniawian

Variasi kebudayaan dalam komunikasi nonverbal adalah perbedaan dalam system komunikasi verbal lintas budaya yang nyata dengan segera dan harus diambil kedalam suatu perhitungan oleh keinginan pemasar yang dilakukan untuk bisnis dalam budaya itu.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: